Teater A ITS, ITS Online -
Gerakan ITS Mengajar tersebut resmi dibuka dalam acara Grand Launching
ITS Mengajar, Sabtu (3/3). Bertempat di Teater A ITS, panitia
menghadirkan pembicara yang berpengalaman dalam kegiatan belajar
mengajar.
Dalam sambutannya di awal acara, Anindito Kusumojati,
Sekretaris Jenderal (Sekjend) Internal BEM ITS mengatakan bahwa
mahasiswa perlu turun langsung ke masyarakat. Salah satunya dengan cara
mengajar pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Menurutnya, Indonesia
mempunyai potensi besar yang belum dimanfaatkan. ''Karena terkadang kita
terlalu individualistis,'' begitu ungkapnya.
Segera saja,
peserta yang berjumlah sedikitnya 80 orang tersebut diajak dalam diskusi
dengan dua tokoh ternama. Materi pertama disajikan oleh Tantien
Hidayati SS MPd. Ia membawakan materi Pentingnya Inovasi Pemuda dalam
Memajukan Pendidikan Indonesia.
Dalam paparannya, Tantien lebih
banyak menampilkan video. Dimulai dari video kondisi Indonesia saat ini,
respon anak kecil yang begitu cepat, hingga kegiatan Komunitas Aksara
Malang yang didirikannya.
Lantas wanita asal Malang ini
menjelaskan bahwa adik-adik binaan, atau peseta didik akan merespon
dengan cepat apa yang mereka lihat, dengar, dan perhatikan. Mereka
meniru tanpa memfilter. ''Maka kita perlu hati-hati dalam berperilaku di
depan anak-anak,'' ujar wanita berkaca mata ini.
Dari penjelasan
tersebut, Tantien bercerita tentang seorang guru yang sedang naik
sepeda motor. Sewaktu berpapasan dengan muridnya, sang guru disapa dan
dengan terpaksa membalasnya dengan lambaian tangan kiri. Akibatnya,
beberapa hari kemudian si murid membalas sapaan temannya dengan hal
serupa. ''Akhirnya, guru itu memilih untuk mengangguk dan tersenyum saja
saat disapa dalam berkendara,'' ungkap Tantien.
Menanggapi
penjelasan alumni Universitas Brawijaya tersebut, Agesti, salah satu
peserta menanyakan peran sekolah dalam membentuk karakter seorang anak.
Karena menurut Agesti, anak-anak lebih banyak diajarkan akademik
dibanding pembentukan karakter.
Lalu dengan tenang, Tantien
mengakui bahwa kebanyakan orang berfikir bahwa pintar berarti sukses di
bidang akademik. Padahal setiap anak memiliki minat dan bakat yang belum
tentu sama. Tidak semua anak dapat disamakan cara belajarnya. Baginya,
sekolah hanyalah salah satu sarana untuk mengembangkan hidup. ''Masukkan
nilai-nilai yang ingin kita tanamkan secara perlahan sehingga mereka
tidak merasa bahwa mereka sebenarnya sedang belajar,'' jelas Tantien
menjawab.
Berikutnya, giliran Nila Pungky Ningtias maju untuk
menyampaikan materi Pengajar Muda. Alumni ITS angkatan 2005 tersebut
menceritakan perjuangannya untuk mengabdi di daerah pedalaman Lampung.
Meski
sempat dikhawatirkan oleh pihak keluarga, Nila berhasil berangkat untuk
bergabung dengan Tim Indonesia Mengajar. ''Wajar juga, orang tua mana sih yang tidak khawatir anak gadisnya pergi ke daerah yang jauh?'' jelasnya.
Lima Proker
Ditemui
secara terpisah, Mochammad Nurul Huda, ketua panitia acara ini,
menjelaskan bahwa acara ini akan ditindaklanjuti dengan lima program
kerja (proker) lainnya dari IECC. Kelima proker itu adalah IECC for
Teacher, IECC Scholarship, IECC Goes to Ujian Nasional (UN), IECC
Surabaya Goes to School, dan IECC for Indonesia.
Ia menambahkan
bahwa ITS Mengajar merupakan program baru sejak IECC berdiri enam tahun
silam. Ia berharap agar mahasiswa ITS dan masyarakat umum, yang akan
menjadi pengajar di program ini, mempunyai semangat untuk memfailitasi
pendidikan. ''Walaupun sedikit yang diberikan, tapi yakinlah manfaatnya
besar,'' pungkasnya. (nir/fz)
Sumber : www.its.ac.id
|